Kak Suhe dari PPA Jakarta berfoto bersama para guru-guru Sekolah Integral Hidayatullah Timika

TIMIKA – Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sekolah Integral Hidayatullah Timika sukses menggelar Seminar Class bertajuk “Menentukan Rasa Menjadi Guru” pada Senin, 2 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung khidmat di Aula Iskandar ini menghadirkan pemateri nasional, Kak Suhe, dari Pola Pertolongan Allah (PPA) Jakarta.

Seminar ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari seluruh jajaran dewan guru mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Tak hanya guru formal, para pengasuh pondok serta seluruh staf di lingkungan Sekolah Pendidikan Hidayatullah Timika juga tampak hadir dengan penuh antusias.

Ketua LPMP Sekolah Integral Hidayatullah Timika, Ustad Rifaid, S.Pd., MM. Gr, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan langkah strategis sekolah untuk menyegarkan kembali niat dan semangat para pengajar.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengupgrade khasanah pengetahuan kita tentang pendidikan. Harapannya, ilmu yang didapat akan menambah semangat guru-guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) ke depannya,” ujar Ustad Rifaid saat diwawancarai di sela-sela acara.

Beliau juga menekankan pentingnya bagi seorang guru untuk tidak hanya mengajar secara intelektual, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan emosional anak didik. “Kita ingin membentuk pribadi guru yang lebih mengerti anak didiknya, sehingga mampu menjadi guru terbaik bagi siswa-siswi kita,” tambahnya.

Hadirnya Kak Suhe dari PPA Jakarta memberikan warna tersendiri dalam seminar ini. PPA atau Pola Pertolongan Allah adalah sebuah konsep pembelajaran yang mengajak setiap individu untuk kembali mentauhidkan Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam profesi guru.

Apa itu PPA? PPA bukanlah sekadar teori motivasi, melainkan sebuah metode untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan hidup dengan cara “mendekat” kepada Sang Pencipta. Dalam konteks pendidikan, PPA mengajarkan bahwa:

  • Mengajar adalah Ibadah: Guru diajak untuk meluruskan niat bahwa mendidik adalah jalan menjemput ridha Allah.
  • Totalitas pada Proses: Fokus pada pelayanan terbaik kepada siswa, sementara hasil (perubahan karakter siswa) diserahkan sepenuhnya kepada Allah (Tawakal).
  • Menghadirkan Hati: Saat seorang guru memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan melembutkan hati para siswanya untuk menerima ilmu.

Suasana Aula Iskandar tampak hidup dengan interaksi aktif antara pemateri dan peserta. Para guru mengaku mendapatkan sudut pandang baru dalam menghadapi tantangan di kelas. Dengan “Menentukan Rasa”, guru diharapkan mampu mengajar dengan cinta, sehingga proses transfer ilmu tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebuah bentuk syukur.

Acara ditutup dengan komitmen bersama seluruh dewan guru untuk menerapkan nilai-nilai PPA dalam ekosistem sekolah, demi mencetak generasi Robbani yang cerdas secara akademik dan kokoh secara iman.(sir)