Ustadz Abdul Syakir, S.Pd.ITIMIKA – Ada pemandangan berbeda di Aula Iskandar, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Sabtu 10 Januari 2026. Ratusan guru mulai dari jenjang TK hingga SMA, para pengasuh santri, hingga karyawan berkumpul bersama. Bukan untuk rapat biasa, melainkan untuk “menyetrum” kembali semangat pengabdian mereka dalam acara Upgrading Guru dan Karyawan Hidayatullah Timika.
Mengajar dengan “Ruh”
Hadir sebagai pembicara utama, Ustadz Abdul Syakir, S.Pd.I, yang juga menjabat sebagai Kasubag TU Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Mimika. Dalam pesannya yang menyentuh, beliau mengingatkan bahwa menjadi guru di Hidayatullah bukan sekadar datang, mengajar, lalu pulang.
“Dalam Manhaj Hidayatullah, guru bukan sekadar pegawai atau karyawan sekolah. Guru adalah sosok yang terus belajar, mendidik dengan kasih sayang, menanamkan adab lewat contoh nyata, dan berjuang demi nilai-nilai agama,” tegas Ustadz Abdul Syakir.
Beliau menekankan sebuah prinsip penting: Metode mengajar yang hebat memang perlu, tapi jiwa (ruh) seorang guru jauh lebih penting. Menurutnya, ilmu akan lebih mudah diterima murid jika disampaikan dengan hati yang ikhlas.
Sesi “Cermin Diri” dan Game Seru
Agar tidak membosankan, acara dikemas dengan sangat menarik. Para peserta diajak melakukan “Cermin Diri” untuk melihat kembali apa saja kekurangan dan kelebihan mereka selama mengajar. Mulai dari urusan kedisiplinan, cara menghadapi murid yang kritis, hingga urusan administrasi seperti nilai yang menumpuk.
Hadir pula tokoh-tokoh inspiratif lainnya seperti Ustadz Syarief Lacoro, Akbar Ridloy (Ketua Yayasan), dan Ustadz Rifaid (Ketua LPMP) yang memberikan motivasi tambahan bagi para peserta.
Meski bahasannya cukup mendalam, suasana tetap cair. Panitia menyelipkan berbagai game seru dan ice breaking yang membuat suasana aula pecah dengan tawa. Kebersamaan ini sekaligus menjadi cara untuk mempererat kekompakan antar guru dan karyawan.
Surat Rahasia untuk Diri Sendiri
Salah satu momen paling haru adalah saat sesi “Surat untuk Diri Sendiri”. Di sini, setiap guru menuliskan janji pribadi tentang hal apa yang ingin mereka perbaiki dalam 30 hari ke depan. Surat ini disimpan untuk dibuka kembali pada pertemuan mendatang sebagai pengingat komitmen mereka.
Di akhir acara, sebuah pesan kuat ditinggalkan untuk seluruh peserta:
“Mengajar itu bukan sekadar pekerjaan cari nafkah, tapi investasi untuk akhirat. Jangan hanya kejar nilai yang sempurna di mata manusia, tapi kejarlah keberkahan di mata Allah. Jika prosesnya berkah, hasilnya pasti membahagiakan.”
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh keluarga besar Hidayatullah Timika kembali ke kelas dengan energi baru, siap mendidik santri dengan lebih sabar, kreatif, dan penuh keteladanan.(sir)




